Monday, 3 April 2017

Desain Typography


Konsep dan filosofi dari desain ini yaitu menceritakan bagaimana seseorang yang sebelumnya tengah menghadapi masalah dan keluar dari lingkungan sosial namun dapat ditarik kembali oleh teman-temannya. Elemen warna di poster ini cukup menonjol, dengan latar belakang warna kuning yang menunjukkan keceriaan, dimana warna kuning ini menceritakan mengenai kondisi individu tersebut yang telah menjadi stabil dan kembali ceria setelah kembali lagi ke lingkungan sosialnya. Elemen lain yang tak kalah menonjol adalah element font atau tipografi itu sendiri. Dalam poster ini, font memiliki karakter yang santai dan tidak kaku, walaupun menggunakan huruf kapital namun garis yang ada dalam setiap fontnya lebih luwes sehingga lebih sesuai untuk menujukkan pikiran individu. Ukuran pun menjadi hal yang penting dalam font ini. Pada poster saya sebelumnya, kata 'out' dan 'in' tidak memiliki ukuran yang terlalu besar dan tidak menonjol. Namun di revisi ini, kedua kata tersebut saya perbesar sehingga terlihat menonjol dan menjadi perhatian utama dari poster ini. 

Desain Snack Indonesia: Keripik Bawang


Konsep poster: keripik bawang tersebut dibentuk dalam pola peta Indonesia untuk memperjelas brand image sebagai produk asli Indonesia, ketiga tangan menunjukkan ketiga suku Indonesia yang berbeda namun dapat disatukan oleh produk keripik bawang yang lezat.

Warna: warna utama latar belakang yaitu hijau tosca karena hijau tosca melambangkan kealamian, kesegaran, dan kebahagiaan. Hal ini relevan dengan bahan utama keripik yang diambil secara segar dari alam, dan rasanya yang lezat dapat menyebarkan kebahagiaan kepada konsumennya.

Font/typography: Font pada judul produk berupa bold dan huruf kapital untuk menegaskan dan memperjelas identitas produk sehingga terlihat lebih eyecatching. Tagline dibuat dalam bentuk italic agar memberikan kesan yang lebih santai dan tidak kaku, untuk menunjukkan posisi keripik bawang yang dapat dinikmati di saat waktu santai dan senggang.

Sunday, 27 November 2016

Atomic Bombs

What if
We were reincarnated?

I was the plutonium bombs,
I was everywhere to be found,
Burned like stars in the northern sky;
Yet my walls were too high
And my insecurity was too deep,
For I was so difficult to be created!

And you,
You were the uranium bombs,
You were the rare atom, of one in a million.
The one that I had been searching for,
To create a massive fusion for us two.

And together
We could create the hydrogen bombs
And explode the whole world
With our love

But yet,
We were too toxic,
Too destructive for each other,
That we keep hurting our bodies;
Roaming through the sky,
Just to sacrifice ourselves in the land of earth,
As to die and to be killed,

As if 
we were 
never destined 
for each other.


-a.d

26.11.2016 // 20.10

Monday, 27 June 2016

Rimba

khayalan dalam memori;
ia hanya meluap dari imaji angan,
yang jauh mengabur ke jurang
raga yang tak pernah berdaya
melulu minta untuk dimanja
dan jiwa yang meraung jauh ke permukaan,
sembari mengembara ke puncak bukit nirwana
yang bergelut dalam ria kemewahan
dan sinar senja yang menyeringai dalam ribuan derita wajah manusia,
siap melahap pikiran kosong yang memilu dalam kepedihan.

sajak lahir karena kesakitan yang merimba dalam gema tangisan,
juga kata yang hadir dari jeritan pilu kemuraman, 
seperti menunggu untuk kelak dicinta, 
hingga asa mendamba untuk diraba. 

Taman Suropati, 16 Juni 2016
03:17 PM

Baik dan Buruk

Setumpuk kata terbelenggu dalam kepala; menunggu untuk dieksplorasi dan diuntai dengan sedemikian rupa. Suara nyaring pun tidak pula bergeming, serasa ingin meledak seperti bom waktu. Aku dan kehidupan. Dua entitas yang tidak dapat dipisahkan keberadaannya, saling mencari satu sama lain.

Konsepsi akan kehidupan terus membayangi benakku yang tidak kunjung bosan untuk berimajinasi; yang pada akhirnya hanya akan menimbulkan beribu pertanyaan: mengapa? bagaimana? untuk apa? dan lain-lainnya. Sejak kecil, orang tuaku selalu mengajarkanku untuk menjadi anak perempuan yang baik: belajar dengan baik, lulus dengan baik, mendapat pekerjaan yang baik, menikah dengan lelaki baik, dan membangun keluarga yang baik. Dulu, aku terdoktrinasi dengan embel-embel stigma "baik" yang cukup melekat dalam diriku setidaknya selama 18 tahun ini. Tidak pernah sekalipun kupertanyakan mengapa aku harus menambahkan kata "baik" di setiap hal yang kulakukan dan di setiap mimpi yang aku cita-citakan.

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan "baik"?

Tuesday, 3 May 2016

Lipatan Arsip



Aku akan melipat dirimu dalam untaian sajak – sajak yang tak pernah usai. Aku akan menggulung memori tentang bias cahaya senyummu dalam lipatan kardus berdebu di sudut kamarku. Seperti prasasti, kau akan lusuh dan merayap rapuh. Seperti arsip, kau akan tersimpan dalam pojok gudang yang abu berdebu. Tetapi sayangku, arsip ini sudah terlalu tua mengerut basi dan mati mengeluh pasi. Jadi, aku akan mendiamkanmu di ujung sana sampai merayu lapuk, dan aku akan maju melebur dengan semesta tanpa menggubris raunganmu di kejauhan nanti. Karena sayangku, apa guna membaca ulang arsip yang berkerak tak terarah?

Depok, 3 May 2016
03:03 PM
© Ocean Avenue
Maira Gall